Fatima Al-Fihri: Ibu Peradaban Dunia dan Kisah di Balik Berdirinya Universitas Tertua di Muka Bumi
Banyak orang mengira bahwa sistem universitas dengan gelar akademik, kursi profesor, dan perpustakaan raksasa adalah penemuan bangsa Barat. Namun, jika kita menilik kembali lembaran sejarah emas Islam di abad ke-9, kita akan menemukan sebuah fakta yang mencengangkan: universitas pertama di dunia justru didirikan oleh seorang wanita muslimah yang shalihah dan visioner.
Beliau adalah Fatima al-Fihri, atau yang dikenal dengan julukan Ummul Banin (Ibu dari anak-anak). Kisahnya adalah perpaduan antara kekayaan harta, ketinggian ilmu, dan ketulusan niat yang melahirkan sebuah institusi yang masih berdiri kokoh hingga hari ini: Universitas Al-Qarawiyyin.
Awal Mula: Hijrah dan Warisan yang Diberkahi
Fatima lahir di Kairouan (Tunisia saat ini) dari keluarga bangsawan dan terpelajar. Ayahnya, Muhammad bin Abdullah al-Fihri, adalah seorang pedagang sukses yang sangat memperhatikan pendidikan anak-anak perempuannya. Fatima tidak dibesarkan untuk sekadar menjadi sosialita, ia dididik untuk mencintai ilmu dan bertaqwa.
Pada awal abad ke-9, keluarga Al-Fihri melakukan hijrah besar-besaran bersama komunitas warga Kairouan lainnya ke kota Fez, Maroko. Di kota inilah keluarga mereka mencapai puncak kejayaannya. Namun, roda kehidupan berputar. Dalam waktu yang singkat, Fatima harus kehilangan ayah, suami, dan saudara laki-lakinya. Ia dan saudara perempuannya, Mariam, mendadak menjadi ahli waris dari kekayaan yang sangat melimpah.
Visi di Balik Tumpukan Emas
Bagi banyak orang, warisan jutaan dinar mungkin akan digunakan untuk membangun istana atau membeli perhiasan. Namun tidak bagi Fatima. Ia melihat harta tersebut bukan sebagai milik pribadi, melainkan amanah dari Allah yang harus dikembalikan kepada umat.
Ia mengamati bahwa kota Fez saat itu mulai sesak. Masjid-masjid yang ada tidak lagi mampu menampung jamaah dan para pencari ilmu yang datang dari berbagai penjuru dunia. Dari sinilah visi besar itu muncul: Fatima ingin membangun sebuah pusat peradaban yang memadukan antara tempat sujud (ibadah) dan tempat berpikir (pendidikan).
Tirakat dan Puasa Selama Pembangunan
Ada satu sisi religius yang sangat luar biasa dari proses pembangunan ini. Pada tahun 859 Masehi, ketika peletakan batu pertama dilakukan, Fatima membuat sebuah sumpah pribadi kepada Allah. Ia memutuskan untuk berpuasa setiap hari sejak hari pertama pembangunan dimulai hingga seluruh bangunan itu selesai, yang memakan waktu bertahun-tahun.
Ia tidak ingin ada satu sen pun harta haram yang masuk ke dalam pembangunan tersebut. Bahkan, ia bersikeras agar bahan bangunan seperti batu, kayu, dan tanah diambil langsung dari tanah miliknya sendiri. Ini adalah bukti ketulusan (ikhlas) yang tiada banding, menunjukkan bahwa kesuksesan sebuah karya besar dimulai dari kesucian niat pencetusnya.
Al-Qarawiyyin: Lebih dari Sekadar Masjid
Awalnya, bangunan ini dikenal sebagai Masjid Al-Qarawiyyin. Namun, karena semangat keilmuan yang dibawa Fatima, masjid ini dengan cepat bertransformasi menjadi pusat akademik. Berbeda dengan institusi pendidikan lain di zamannya yang hanya mengajarkan agama, Al-Qarawiyyin membuka pintu bagi berbagai cabang ilmu pengetahuan:
- Astronomi & Matematika: Di sinilah angka nol dan sistem penanggalan dipelajari secara mendalam.
- Kedokteran & Kimia: Melahirkan dokter-dokter yang menjadi rujukan dunia medis.
- Sastra & Bahasa: Menjadi pusat tata bahasa Arab paling otoritatif.
- Hukum & Filsafat: Tempat di mana Ibnu Khaldun (Bapak Sosiologi Dunia) merumuskan pemikiran-pemikirannya yang jenius.
Bahkan, Paus Silvester II (tokoh paling berpengaruh di Eropa saat itu) pernah belajar di Al-Qarawiyyin dan di sinilah ia mengenal angka Arab yang kemudian ia perkenalkan ke Eropa untuk menggantikan sistem angka Romawi yang rumit.


Diakui Dunia Hingga Detik Ini
Kehebatan visi Fatima al-Fihri diakui secara resmi oleh UNESCO dan Guinness World Records. Universitas Al-Qarawiyyin ditetapkan sebagai institusi pendidikan pemberi gelar tertua yang masih beroperasi secara terus-menerus di dunia. Gelar-gelar akademik yang kita kenal sekarang (seperti Sarjana atau Doktor), sistem jubah kelulusan (toga), hingga metode ujian lisan, semuanya memiliki akar sejarah yang kuat dari sistem yang dibangun di Al-Qarawiyyin.
Pelajaran Bagi Muslimah Masa Kini
Kisah Fatima al-Fihri memberikan pesan kuat bahwa:
- Islam sangat menghargai wanita: Islam memberikan hak waris dan hak pendidikan penuh kepada wanita jauh sebelum bangsa lain melakukannya.
- Pendidikan adalah Sedekah Jariyah terbaik: Fatima telah wafat seribu tahun lalu, namun setiap huruf yang dipelajari dan setiap penemuan yang lahir dari universitas tersebut, pahalanya terus mengalir kepadanya.
- Kemandirian Finansial: Fatima menunjukkan bahwa wanita muslimah yang cerdas finansial dapat mengubah dunia.
