Mengatur Fikih Prioritas di Tengah Kesibukan Dunia yang Tak Ada Habisnya
pernahkah kamu merasa bahwa waktu 24 jam dalam sehari tidak pernah cukup? Kita bangun pagi, langsung dihadapkan pada tumpukan pekerjaan rumah, urusan kantor, hingga notifikasi ponsel yang seolah menjerit minta perhatian. Seringkali, saat malam tiba, kita merasa sangat lelah secara fisik dan mental, namun saat menoleh ke belakang, kita merasa belum melakukan sesuatu yang benar-benar berarti bagi akhirat kita.
Inilah fenomena hustle culture yang masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan muslimah. Kita terjebak dalam perlombaan dunia yang tak ada garis finish-nya. Di sinilah pentingnya kita mempelajari kembali sebuah bab dalam kajian islam yang disebut Fikih Prioritas (Fiqh al-Aulawiyyat). Yaitu seni memilih mana yang paling penting di hadapan Allah, bukan hanya mana yang paling mendesak di mata manusia.
Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.
Umar bin Khattab
Memahami Hakikat Prioritas dalam Islam
Dalam kajian fikih, prioritas bukan sekadar tentang mengatur jadwal harian, melainkan tentang menempatkan sesuatu pada tempatnya berdasarkan timbangan syariat. Allah SWT telah memberikan panduan melalui lisan Rasulullah SAW bahwa ada amalan yang dicintai, dan ada yang jauh lebih dicintai.
Masalah utama kita hari ini bukanlah kurangnya waktu, melainkan “bocornya” niat. Kita sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk sesuatu yang bersifat mubah (boleh dilakukan tapi tidak berpahala khusus), namun merasa berat untuk meluangkan waktu 10 menit guna tadabbur ayat-ayat-Nya. Kajian ini mengajak kita untuk merenung: Jika hari ini adalah hari terakhir kita, apakah tumpukan cucian atau jumlah likes di media sosial yang akan kita bawa menghadap-Nya?
Mendahulukan Kewajiban di Atas Sunnah
Salah satu kesalahan dalam memprioritaskan iman adalah ketika kita terlalu fokus pada hal-hal yang sifatnya pelengkap, tapi melalaikan yang pokok. Contohnya, seseorang yang rela begadang untuk membaca buku motivasi tapi kemudian melewatkan shalat Subuh karena mengantuk.
Secara kajian fikih, menjaga yang wajib adalah harga mati. Allah berfirman dalam Hadits Qudsi, “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.” Jadi, kunci pertama ketenangan adalah beresin dulu yang wajib. Jika shalat lima waktu kita masih di ujung waktu, jangan heran jika urusan dunia kita terasa berantakan.
Memberi Makan Ruhani yang Kelaparan
Kita sangat teliti dalam urusan makan fisik. Kita tahu kapan tubuh butuh nutrisi, kapan butuh vitamin. Namun, seberapa sering kita menyadari bahwa jiwa kita sedang “kelaparan”? Jiwa yang lapar akan bermanifestasi menjadi rasa gelisah, mudah marah, dan merasa hampa meskipun semua fasilitas dunia terpenuhi.
Kajian Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) mengajarkan bahwa ruhani kita butuh asupan berupa dzikir dan ilmu. Luangkan waktu di antara kesibukan untuk mendengarkan kajian atau membaca kitab salaf. Ilmu adalah cahaya, dan tanpa cahaya, kita akan terus tersandung dalam kegelapan masalah hidup. Menuntut ilmu bagi muslimah bukan sekadar hobi, tapi kebutuhan agar kita tahu cara beribadah dengan benar di tengah kesibukan rumah tangga.
Seni Berkata “Tidak” pada Hal yang Sia-Sia
Rasulullah SAW bersabda, “Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi). Dalam konteks modern, ini adalah motivasi besar untuk melakukan digital detox.
Banyak waktu kita habis hanya untuk melihat kehidupan orang lain yang belum tentu nyata. Ini menciptakan rasa iri (hasad) yang membakar amal kebaikan. Dengan mengurangi hal yang sia-sia, kita memberikan ruang bagi hati untuk bernapas. Bayangkan berapa banyak ayat yang bisa kita hafal atau berapa banyak shalat sunnah yang bisa kita kerjakan jika kita mengurangi waktu scrolling hanya satu jam saja setiap hari.
Mengubah Rutinitas Menjadi Ibadah (The Power of Niat)
Kabar gembira bagi muslimah, kajian islam mengajarkan bahwa aktivitas duniawi bisa berubah menjadi pahala yang mengalir deras hanya dengan modal niat. Saat kamu memasak untuk keluarga, niatkanlah untuk menjaga kesehatan hamba-hamba Allah. Saat kamu membersihkan rumah, niatkanlah karena Allah mencintai kebersihan.
Inilah “jalan pintas” menuju keberkahan. Kita tetap melakukan urusan dunia, tapi hati kita tetap terikat pada langit. Dengan begitu, kesibukan tidak lagi menjadi beban yang menyesakkan, melainkan sarana untuk mengumpulkan bekal menuju jannah. Ketika niat sudah lurus, rasa lelah akan berubah menjadi lillah.
Istiqomah di Tengah Fitnah Akhir Zaman
Mempertahankan iman di zaman sekarang ibarat menggenggam bara api. Godaan untuk ikut-ikutan tren yang menjauhkan diri dari syariat sangatlah besar. Kajian ini mengingatkan kita untuk mencari lingkungan yang mendukung (shalihat circle). Kita butuh teman yang mengingatkan saat kita mulai lalai, bukan teman yang hanya mengajak pada kesenangan sementara.
Jadilah muslimah yang punya prinsip. Prioritas kita adalah rida Allah. Jika sebuah urusan dunia mulai mengganggu kualitas hubungan kita dengan Allah, maka beranilah untuk melepasnya. Ingatlah, siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik.
Pulanglah ke Pelukan Rabbmu
Sebagai penutup kajian singkat ini, mari kita sadari bahwa dunia ini hanyalah jembatan, bukan tujuan. Sesibuk apa pun kamu hari ini, pastikan hatimu tetap memiliki waktu untuk “pulang” kepada Allah. Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak harta atau pencapaian yang kita bawa, tapi Qalbun Salim—hati yang selamat dan bersih—saat bertemu dengan Sang Pencipta.
Semoga Allah senantiasa membimbing langkah kita untuk selalu mendahulukan apa yang Ia cintai di atas segala-galanya. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
